PKBI Siapkan Kurikulum Kespro di Kulonprogo

Logo PKBI/dokHarian jogja—Lembaga Swadaya Masyarakat Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Kulonprogo makin memantapkan penyiapan kurikulum pendidikan kesehatan reproduksi (kespro) untuk pelajar di Kulonprogo.

Diharapkan tahun ajaran mendatang pendidikan itu sudah masuk dalam pelajaran muatan lokal. Kepada Harian Jogja, Rabu (5/12), Direktur PKBI Kulonoprogo Paulo Ngadi Cahyo mengatakan mereka sudah dua kali menggelar pertemuan dengan jajaran Pemkab Kulonprogo.

Dalam pertemuan pertama digelar dua pekan sebelumnya di mana PKBI memaparkan tentang rencana materi serta pihak mana saja yang diajak bekerja sama, termasuk sekitar 50 guru SMA/SMK se-Kulonprogo.

“Hari ini [kemarin] kami kembali menggelar rapat dengan pemkab di kompleks Kantor Bupati untuk membicarakan tentang detail materi pendidikan. Secara umum kami sudah siap karena sudah ada buku panduan pendidikan kespro bagi pelajar SD sampai SMA,” ujar dia.

Advertisements
By pkbikulonprogo

Rentan Penularan, Waria Ikuti Konsultasi di PKBI

Akses bagi waria dan kaum marginal lainnya untuk mendapatkan informasi mengenai kesehatan fisik dan pemeriksaan HIV-AIDS semakin terbuka. Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) membuka layanan voluntary counseling and testing (VCT), klinik pelayanan dan konsultasi kepada masyarakat tentang penyakit HIV-AIDS.

Respon positif dari masyarakat terlihat dari antrian di depan kantor PKBI tepatnya di Jalan Suparman, Desa Punukan, Kecamatan Wates Kabupaten Kulonprogo DIY.

Bagi kaum waria, layanan konseling hv-aids menjadi harapan tersendiri untuk mengetahui kondisi kesehatan mereka yang selalu dikaitkan sebagai salah satu penyumbang penularan HIV-AIDS.

Tak canggung dengan keunikan dirinya, Tiara tampak berada ditengah-tengah  antrian untuk mendapatkan pemeriksaan darah gratis dari PKBI. Mengenakan kaos biru pola bergaris dan rambut terikat rapi, Tiara hanya menunggu 10 menit untuk masuk klinik.

Waria dan Pekerja Seks Komersial (PSK) selalu menjadi kambing hitam penyebaran HIV-AIDS di Indonesia, padahal penyebarannya dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan terhadap penggunaan peralatan medis, mengkonsumsi narkoba hingga transfusi darah.

Tiara merasa senang setelah mengetahui hasil tes darah menyatakan dirinya negatif HIV-AIDS. “Saya akan mengajak teman-temannya untuk mengikuti tes darah agar opini masyarakat yang salah kaprah tidak terus menghantui mereka karena memiliki keunikan secara emosi dan fisik,” ucapnya.

Paulo Ngadicahyono Direktur PKBI Kulonprogo mengatakan, menjadi tidak adil ketika penularan HIV-AIDS disebabkan oleh komunitas atau golongan tertentu saja. “Banyak waria tidak terdeteksi mengidap penyakit HIV, justru pelajar, mahasiswa sampai masyarakat umum justru mengidapnya tanpa mereka ketahui,” tegasnya.

Kasus HIV-AIDS di Kabupaten Kulonprogo sejak tahun 2005 hingga saat ini sudah tercatat mencapai 77 kasus, itu baru dipermukaan saja, apalagi tipologi penyebarannya seperti gunung es runcing di atas dan semakin melebar ke bawah.

 

PKBI berharap adanya layanan konsultasi HIV-AIDS dapat digunakan maksimal oleh masyarakat Kulonprogo.

By pkbikulonprogo

komunitas waria

warkop‘Mbak, esteh satu ya’, saut seseorang dari samping warung di Pasar Teteg Kulon. Tapi yang diajak bicara hanya diam saja sambil mengumbar senyum. Sedangkan pria yang mengajak bicara tampak bingung, tapi kemudian dia menyadari kekeliruannya.

“maaf mas, saya kira perempuan. Esteh satu ya,” pintanya sambil tersenyum malu.

Itu secuil dialog di warung kopi milik komunitas waria Kulonprogo yang tergabung dalam Warkop. Warung yang belum lama dibuka ini berada di Dinas Kesehatan Kulonprogo. Warung ini sepenuhnya dikelola waria Kulonprogo.

Sepintas kondisi warung tidak jauh berbeda dengan warung pada umumnya. Di bagian depan, terpampang tumpukan indomie serta bahan olahan untuk lotek, gado-gado hingga soto. Ada juga minuman  botol seperti aqua, coca-cola dan sprite.

Di bagian dalam, tergantung aneka minuman kemasan. Ya warung ini memang masih baru. Tapi menu yang disediakan lumayan komplit. Soal harga, tak perlu dipertanyakan lagi. Harga yang dipatok penjualnya cukup kompromis di kantong.

Semangkok soto ayam hanya dihargai Rp3.000 saja, lotek Rp5.000 dan gado-gado Rp6.000. “Harga minumannya standar seperti yang lain. Kami tidak mau jual yang mahal-mahal,” ucap Sigit Aryanto alias Siska.

Warkop memang patut bersukur. Karena respons masyarakat terhadap warung itu cukup baik. Terbukti, dagangan yang disajikan selalu ludes terjual. Sehari, Siska dan kawan-kawan bisa menjual 20 porsi lotek, 20 porsi soto dan 10 gado-gado. Siska mengaku tak menyangka akan mendapat respons sebaik itu.

Secara keseluruhan, warung dikelola lima anggota Warkop. Tugas menjaga warung dilakukan bergantian, kecuali dirinya. Alasannya, harus ada satu koki khusus untuk menjaga standar makanan yang dijajakan.

Dia sendiri mengaku kadang dibuat repot bila pembeli datang berbarengan. Tak jarang dia juga dibuat keki ketika ada pembeli yang membantu mengerjakan tugasnya. “Harusnya kan saya yang buat, eh malah dibantuin. Saya jadi malu sendiri,” ucapnya sambil tertawa genit.

Diana, rekan Siska menambahkan, warung dibuka setelah komunitas mendapat bantuan dana dari Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) sebesar Rp10,5 juta. Bantuan itu digunakan mengambil alih kios Rp8 juta juta, sisanya untuk membeli perabot dan bahan baku.

“Semenjak ada warung ini, sudah mulai jarang yang keluyuran di jalan. Sekarang kami punya kerjaan di sini. Dan ternyata kami juga bisa walau pun belum mahir seperti yang lain,” ujarnya bangga.

Paulo Ngadi Cahyono, Direktur PKBI Kulonprogo mengatakan, memberi ruang bagi waria agar mengakses ekonomi produktif tidak mudah dilakukan. Bahkan untuk menyelesaikan proses hak pakai kios butuh waktu hingga dua minggu.

Langkah itu sebagai upaya mengikis stigma negatif terhadap waria. Berkat warung ini, setidaknya empat waria tidak lagi turun ke jalan dalam dua bulan terakhir. Dia yakin, jumlahnya akan semakin banyak di kemudian hari.

“Kami akan coba juga ikutkan mereka dalam pelatihan agar mereka lebih terampil. Sekarang kami cukup senangkarena mereka bias berinteraksi dengan warga lain, pedagang di pasar. Dan ternyata mereka juga bisa jualan dan laku,” katanya.

By pkbikulonprogo

Kespro masuk Mulok Sarana Pengikis Degenerasi Moral Remaja

Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi (kespro) di masyarakat, khususnya di kalangan anak-anak dan remaja sangat memprihatinkan. Wajar saja, pasalnya mayoritas masyarakat kita menganggap tabu hal-hal yang berkenaan dengan organ reproduksi dan di rasa tidak pantas untuk dibahas terang-terangan. Namun realita yang terjadi di kalangan remaja khususnya pelajar, justru semakin kontras dengan norma-norma yang ada. Seks bebas, kehamilan di luar nikah, IMS (infeksi menular seksual), aborsi yang tidak aman, narkoba, serta beragam bentuk pacaran yang tidak sehat dan menyimpang menjadi fenomena tersendiri yang membingkai potret hidup remaja dewasa ini. Namun yang perlu mendapat perhatian lebih adalah problematika kesehatan reproduksi remaja yang mana kuantitas kasusnya semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Kebanyakan remaja dan anak-anak belum memiliki pengetahuan seksualitas yang mumpuni dan benar. Hal ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh  Youth Forum di bawah bimbingan PKBI Kulon Progo pada bulan Juli tahun 2008, di antara 600 siswa dari 4 sekolah di Kulon Progo, kurang lebihnya hanya 48% yang mengetahui tentang dasar-dasar kesehatan reproduksi yang benar, itupun belum secara keseluruhan. Hal ini sangat memprihatinkan, padahal hak mendapat pendidikan termasuk mendapatkan pendidikan kespro merupakan hak kita semua.

Pendidikan kespro memang tidak dibahas terperinci oleh kurikulum pendidikan, hanya setengah-setengah saat pelajaran agama dan biologi. Hal ini malah membuat semakin penasaran anak-anak dan remaja tentang seksualitas sehingga mereka bertanya kepada sumber yang belum tentu benar bahkan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dampaknya mereka malah akan semakin terjerumus dalam permasalahan remaja seperti seks bebas dan aborsi yang tidak aman. Untuk itu mari kita bersama-sama memperjuangkan pendidikan kespro masuk dalam muatan lokal di wilayah Kulonprogo(jeje)

By pkbikulonprogo

KASUS PERNIKAHAN DINI KULON PROGO

Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu Kabupaten yang ada di DIY.Menurut data yang ada di Kabupaten Kulon Progo, kasus pernikahan usia dini sejak tahun 2006 hingga akhir 2012 terjadi pasang surut dan sempat meledak di tahun 2008. Berdasarkan laporan dari Kantor Kemenag Kabupaten Kulon Progo, bila sepanjang tahun 2006 hanya terjadi 19 kasus, di tahun 2007 naik menjadi 41 kasus dan di tahun 2008 membengkak hingga 68 kasus. Selanjutnya di tahun 2009 sedikit turun menjadi 54 kasus dan tahun 2010 turun lagi menjadi 36 kasus. Kemudian tahun 2011 naik lagi menjadi 37 kasus dan tahun 2012 turun menjadi 29 kasus.

Ukuran usia yang dijadikan patokan sebagai pernikahan usia dini adalah UU Perkawinan No 1 Tahun 1974 di mana seorang laki-laki diperbolehkan menikah pada usia 19 tahun ke atas dan perempuan dan perempuan pada usia 16 tahun ke atas. Fluktuasi kasus pernikahan usia dini ini perlu diwaspadai, karena tampaknya ada kaitan antara jumlah kasus pernikahan usia dini dengan besarnya persentase calon pengantin (catin) hamil. Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, bila di tahun 2006 kasus catin hamil baru 9,9% maka di tahun 2007 kasusnya naik menjadi 13,32% dan tahun 2008 turun menjadi 10,24%. Namun di tahun 2009 naik lagi menjadi 11,20% dan tahun 2010 menjadi 11,66%. Pada tahun 2011 kasusnya masih mengalami kenaikan menjadi 11,78% dan baru akhir tahun 2012 mengalami penurunan menjadi 8,18%. Dalam kurun waktu 3 tahun di Kulonprogo terjadi peningkatan permintaan dispensasi pernikahan disebabkan banyak remaja berusia 12 – 15 tahun yang telah hamil akibat berhubungan seksual sebelum menikah, selama tahun 2011, paling tidak ada 70 kasus permintaan dispensasi karena remaja yang telah hamil.

Sebenarnya beberapa SKPD telah mempunyai program untuk Kesehatan Reproduksi Remaja seperti BPMPDP dan KB yang mempunyai program PIK R dari data yang ada, hingga akhir 2012 jumlah kelompok PIK Remaja baru mencapai 40 kelompok yang terdiri dari 22 PIK Remaja Jalur Sekolah dan 18 jalur non sekolah dan tersebar di 12 kecamatan se Kabupaten Kulon Progo. Pelaksanaan program tersebut belum mampu menjawab akan kebutuhan informasi kesehatan reproduksi dimasyarakat. Permasalahan seperti Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) seakan menjadi berita yang selalu muncul dalam perbincangan masyarakat. Apalagi ditambah dengan belum berperannya lembaga pemerintah di dalam pemenuhan hak untuk masyarakat.

Kata tabu untuk isu kesehatan reproduksi seakan masih menjadi sejata utama di masyarakat untuk menjauhi informasi mengenai kesehatan reproduksi. Padahal kalau kita lihat remaja dan masyarakat faktanya membutuhkan informasi tersebut. Ada sebuah kontribusi terhadap penurunan angka kekerasan dalam rumah tangga seandainya pemenuhan pendidikan kesehatan dan reproduksi ini diberikan. Penghargan terhadap perempuan juga akan meningkat ketika perempuan mempunyai power untuk melakukan perubahan dan menguak ketabuan.

Dalam Revolusi KB, peran untuk membentuk Keluarga Berencana yang sesungguhnya, tidak hanya pada penjarangan kehamilan dan penggunaan alkon pada perempuan, tetapi juga bagaimana perempuan bisa asertif terhadap pasangannya dan menyadari hak-haknya, termasuk hak kesehatan reproduksi. Bila perempuan sudah sadar haknya, maka bukan tidak mungkin keputusan yang diambil untuk tindakan yang berhubungan dengan kesehtan reproduksinya juga sesuai dengan kondisi dan kenyamanan perempuan.(Jeje)

By pkbikulonprogo

Penderita HIV/AIDS di Kulon Progo Melonjak

WATES, KOMPAS.com – Sepanjang tahun 2009, telah ditemukan 15 warga Kulon Progo yang positif menderita HIV/AIDS. Jumlah ini melonjak enam kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, salah satu di antaranya adalah anak kecil berusia lima tahun.

Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kulon Progo Anugerah Wijayanti mengatakan bertambahnya penderita HIV/AIDS tahun ini amat memprihatinkan. Sejak penderita HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Kulon Progo, tahun 2002, pertambahan jumlah penderita rata-rata sekitar 2-3 orang per tahun. Secara akumulatif telah ditemukan 31 penderita HIV/AIDS di Kulon Progo.

“Lebih memprihatinkan lagi bahwa tahun ini ditemukan satu penderita yang masih anak-anak. Ini membuktikan persebaran virus HIV/AIDS sudah sangat meluas hingga ke seluruh usia warga Kulon Progo,” kata Anugerah, Senin (23/11), di Wates.

Anak itu diketahui menderita HIV/AIDS setelah dirawat di RSUD Wates, awal 2009, karena menderita tuberkulosis. Kuat dugaan ia tertular virus dari ibunya yang meninggal lima tahun lalu akibat penyakit tifus. Sebab, menurut Anugerah, petugas tidak menemukan virus HIV/AIDS di tubuh ayah dan kakak anak itu.

Saat ini, anak itu berada dalam pengawasan ketat petugas pendamping dari komunitas Menoreh Plus yang peduli dengan orang pengidap HIV/AIDS. Setiap hari, anak itu harus meminum obat anti retroviral secara rutin.

Melonjaknya jumlah penderita HIV/AIDS di Kulon Progo, lanjut Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kulon Progo Budi Ismanto, disebabkan terjadinya perubahan gaya hidup masyarakat yang cenderung gemar melakukan hubungan seks bebas dan berisiko. Lebih dari separuh dari jumlah penderita HIV/AIDS adalah ibu rumah tangga dan kepala kelu arga yang pernah berhubungan dengan wanita pekerja seks.

“Untuk penderita HIV/AIDS dari kalangan pengguna narkoba suntik dan lelaki suka lelaki di Kulon Progo jauh lebih rendah,” ujar Budi di ruang kerjanya.

Sejauh ini belum ada solusi terbaik untuk mencegah penularan HIV/AIDS selain menyosialisasikan perilaku hidup sehat dan seks aman. Sosialisasi itu sendiri, lanjut Anugerah, belum sepenuhnya bisa diterima masyarakat Kulon Progo yang masih konservatif.

Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kulon Progo Paulo Ngadicahyono mengatakan sosialisasi itu lebih efektif diberikan kepada generasi muda dan pelajar. Selain pola pemikiran mereka yang lebih terbuka, kalangan usia muda rentan terhada p pergaulan bebas dan penularan virus HIV/AIDS.

“Kami menyelipkan sosialisasi HIV/AIDS melalui konseling dan pendidikan kesehatan reproduksi yang sudah berjalan di sekolah-sekolah menengah,” ujarnya.

KPAD Kulon Progo berharap pemerintah daerah merealisasikan pendirian klinik voluntary counseling and testing (VCT) di RSUD Wates. Klinik itu akan mem udahkan warga Kulon Progo memeriksakan diri dari kemungkinan tertular HIV/AIDS, sehingga jumlah serta cara penanganannya bisa terpantau. Keterbatasan anggaran membuat RSUD Wates baru siap mendirikan klinik VCT tahun 2014.

By pkbikulonprogo

Stadion Cangkring Kulon Progo Dihiasi Mural Kespro

Kulon Progo Teraspos.com – Pelajar sekolah menengah atas dan kejuruan yang tergabung dalam kelompok Youth Forum Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menghiasi dinding stadion Cangkring dengan gambar-gambar mural dengan isu “kesehatan reproduksi dan generasi berencana,”.

Pendamping Youth Forum Ragil Prasedewo di Kulon Progo, Minggu, mengatakan kegiatan menggambar mural itu menjadi salah satu agenda Youth Forum bersama Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kulon Progo.

“Kami berharap, gambar mural mampu menyebarluaskan pesan informasi tentang materi kesehatan reproduksi bagi remaja. Mural ini berisikan pesan tentang konsep generasi berencana bagi para remaja,” kata Ragil.

Ia mengatakan, mural merupakan alat untuk menyampaikan pesan melalui media yang bisa diakses secara gampang dan luas oleh masyarakat. Remaja perlu menyadari posisinya sebagai generasi penerus yang seharusnya memiliki rencana atas hidupnya.

Menurut dia, materi kespro dan seksualitas sangat penting untuk dipahami remaja dan para orangtua. Selama ini, banyak kekerasan seksual dan kasus kehamilan tak diinginkan terjadi pada remaja. Pihaknya memandang pengenalan materi kespro dan seksualitas itu sangat penting untuk diketahui remaja.

“Pasangan remaja yang terkondisikan dari Kehamilan Tak Diinginkan (KTD) pun berhak mendapatkan layanan atas fasilitas kesehatan reproduksi di puskesmas,” katanya.

Terkait rencana memasukkan materi tersebut ke dalam kurikulum pendidikan sebagai muatan lokal, ia mengharapkan angka kekerasan seksual bisa ditekan dengan adanya pemahaman akan masalah kespro dan seksualitas.

“Lewat mural ini, kami ingin menyampaikan ke masyarakat luas, terutama para orangtua untuk memberikan pengawasan dan pemahaman yang benar tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi. Termasuk juga bagaimana menjaga kesehatan seksual remaja,” katanya.

Direktur PKBI Kulon Progo Paulo Ngadi Cahyono mengatakan kegiatan tersebut diikuti sejumlah perwakilan pendidik sebaya atau peer educator dari kalangan pelajar yang tergabung dalam Youtf Forum Kulon Progo.

Menurut dia, media mural sebagai cara yang lebih representatif untuk menyampaikan pesan kesehatan reproduksi dan seksualitas pada remaja. Stadion tersebut menurutnya merupakan sarana publik yang lebih mudah diakses oleh khalayak ramai.

“Tembok stadion ini banyak corat-coret graviti hasil vandalisme yang mengganggu. Dengan kegiatan menggambar mural ini, bisa menjadi contoh yang lebih ekspresif bagi para remaja dan juga memiliki fungsi memberikan edukasi bagi yang lainnya,” kata Paulo.

(KR-STR)

By pkbikulonprogo

Kesehatan reproduksi diharapkan masuk kurikulum nasional

@IRNewscom I Kulon Progo: KESEHATAN reproduksi dan seksual remaja diharapkan masuk dalam kurikulum nasional untuk mata pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah setingkat sekolah menengah atas, kata peneliti Pusat Kajian dan Seksualitas Universitas Indonesia Gabriella Devi Benedicta.

“Kami memandang masalah kesehatan reproduksi (kespro) dan seksual sangat penting masuk dalam kurikulum. Kami ingin kespro masuk sebagai mata pelajaran sendiri yang sejajar dengan pelajaran lainnya,” kata Devi di Kulon Progo, Kamis(21/2).

Menurut dia, tingginya angka kehamilan yang tidak diinginkan dan aborsi di kalangan remaja disebabkan minimnya pengetahuan kespro dan seksualitas. Kasus ini banyak terjadi di semua kota besar seperti Jakarta dan Bandung.

“Pendidikan kespro dan seksualitas masih parsial dalam mata pelajaran biologi serta pendidikan jasmani dan kesehatan (penjaskes). Selain itu, hingga saat ini belum ada kebijakan khusus dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang membahas ini,” katanya.

Untuk itu, kata dia, Pusat Kajian dan Seksualitas (Puskagenseks) Universitas Indonesia melakukan kerja sama dengan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) membentuk tim kelompok kerja (pokja) untuk mengkaji dan mengadvokasi memasukkan materi kespro dan seksual ke kurikulum nasional.

Pokja bekerja selama tiga tahun, sejak 2012 hingga 2014, dengan lingkup kajian di delapan kota, salah satunya Kulon Progo.

Ia mengatakan berdasarkan hasil kajian pojka di delapan kota yang menjadi lingkup kajian, siswa dan guru merasa membutuhkan materi kespro tersebut masuk kurikulum.

Namun, kata dia, persoalannya belum ada kebijakan spesifik dari Kemendikbud, bahkan isu kespro juga harus bersaing dengan isu korupsi dan narkoba yang juga diwacanakan masuk kurikulum.

“Kami tim pokja mengadvokasi dengan basis data dari daerah. Kami sudah lakukan studi dengan ‘baseline survey’, dan memetakan kebijakan,” katanya.

Pararel dengan itu, menurut dia, di pusat pihaknya juga advokasi ke Kementerian Pendidikan, Kesehatan, dan KPAN untuk memasukkan kespro dalam kurikulum.

Direktur Eksekutif PKBI Kulon Progo Paulo Ngadi Cahyono mengatakan materi kespro dan seksual di sekolah baru sebatas ekstrakurikuler.

Ia menyebutkan ada 16 sekolah setingkat SMA di Kulon Progo yang menjadi pendampingan PKBI terkait pendidikan kespro bagi siswa.

Menurut Paulo, kespro mendesak masuk dalam kurikulum seperti muatan lokal (mulok), karena pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan seksual merupakan kebutuhan remaja.

Pengetahuan itu harus diberikan guna mengurangi informasi yang diperoleh remaja dari sumber yang tidak representatif.

“Kami menargetnya tahun ajaran baru pada Juli-Agustus mendatang sudah masuk jadi mulok,” kata Paulo.[*]

By pkbikulonprogo