Penderita HIV/AIDS di Kulon Progo Melonjak

WATES, KOMPAS.com – Sepanjang tahun 2009, telah ditemukan 15 warga Kulon Progo yang positif menderita HIV/AIDS. Jumlah ini melonjak enam kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, salah satu di antaranya adalah anak kecil berusia lima tahun.

Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kulon Progo Anugerah Wijayanti mengatakan bertambahnya penderita HIV/AIDS tahun ini amat memprihatinkan. Sejak penderita HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Kulon Progo, tahun 2002, pertambahan jumlah penderita rata-rata sekitar 2-3 orang per tahun. Secara akumulatif telah ditemukan 31 penderita HIV/AIDS di Kulon Progo.

“Lebih memprihatinkan lagi bahwa tahun ini ditemukan satu penderita yang masih anak-anak. Ini membuktikan persebaran virus HIV/AIDS sudah sangat meluas hingga ke seluruh usia warga Kulon Progo,” kata Anugerah, Senin (23/11), di Wates.

Anak itu diketahui menderita HIV/AIDS setelah dirawat di RSUD Wates, awal 2009, karena menderita tuberkulosis. Kuat dugaan ia tertular virus dari ibunya yang meninggal lima tahun lalu akibat penyakit tifus. Sebab, menurut Anugerah, petugas tidak menemukan virus HIV/AIDS di tubuh ayah dan kakak anak itu.

Saat ini, anak itu berada dalam pengawasan ketat petugas pendamping dari komunitas Menoreh Plus yang peduli dengan orang pengidap HIV/AIDS. Setiap hari, anak itu harus meminum obat anti retroviral secara rutin.

Melonjaknya jumlah penderita HIV/AIDS di Kulon Progo, lanjut Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kulon Progo Budi Ismanto, disebabkan terjadinya perubahan gaya hidup masyarakat yang cenderung gemar melakukan hubungan seks bebas dan berisiko. Lebih dari separuh dari jumlah penderita HIV/AIDS adalah ibu rumah tangga dan kepala kelu arga yang pernah berhubungan dengan wanita pekerja seks.

“Untuk penderita HIV/AIDS dari kalangan pengguna narkoba suntik dan lelaki suka lelaki di Kulon Progo jauh lebih rendah,” ujar Budi di ruang kerjanya.

Sejauh ini belum ada solusi terbaik untuk mencegah penularan HIV/AIDS selain menyosialisasikan perilaku hidup sehat dan seks aman. Sosialisasi itu sendiri, lanjut Anugerah, belum sepenuhnya bisa diterima masyarakat Kulon Progo yang masih konservatif.

Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kulon Progo Paulo Ngadicahyono mengatakan sosialisasi itu lebih efektif diberikan kepada generasi muda dan pelajar. Selain pola pemikiran mereka yang lebih terbuka, kalangan usia muda rentan terhada p pergaulan bebas dan penularan virus HIV/AIDS.

“Kami menyelipkan sosialisasi HIV/AIDS melalui konseling dan pendidikan kesehatan reproduksi yang sudah berjalan di sekolah-sekolah menengah,” ujarnya.

KPAD Kulon Progo berharap pemerintah daerah merealisasikan pendirian klinik voluntary counseling and testing (VCT) di RSUD Wates. Klinik itu akan mem udahkan warga Kulon Progo memeriksakan diri dari kemungkinan tertular HIV/AIDS, sehingga jumlah serta cara penanganannya bisa terpantau. Keterbatasan anggaran membuat RSUD Wates baru siap mendirikan klinik VCT tahun 2014.

Advertisements
By pkbikulonprogo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s